1967 Israel menyerang Mesir,
Yordania dan Syria dan
berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran
tinggi Golan (Syria), Tepi
Barat dan Yerussalem
(Yordania).. Sampai sekarang
perdamaian sepertinya jauh
dari harapan. Ditambah lagi terjadi ketidaksepakatan
tentang masa depan Palestina
dan hubungannya dengan
Israel di antara faksi-faksi di
Palestina sendiri. Tulisan ini
dimaksudkan sebagai pengingat sekaligus upaya
membuka pemahaman kita
mengenai latar belakang
sejarah sebab terjadinya
konflik ini. 2000 SM – 1500 SM Istri Nabi Ibrahim A.s., Siti
Hajar mempunyai anak Nabi
Ismail A.s. (bapaknya bangsa
Arab) dan Siti Sarah
mempunyai anak Nabi Ishak
A.s. yang kemudian mempunyai anak Nabi Ya’qub A.s. alias
Israel (Israil, Qur’an). Anak
keturunannya disebut Bani
Israel sebanyak 7 (tujuh)
orang. Salah satunya
bernama Nabi Yusuf A.s. yang ketika kecil dibuang oleh
saudara-saudaranya yang
dengki kepadanya. Nasibnya
yang baik membawanya ke
tanah Mesir dan kemudian dia
menjadi bendahara kerajaan Mesir. Ketika masa paceklik,
Nabi Ya’qub A.s. beserta
saudara-saudara Yusuf
bermigrasi ke Mesir. Populasi
anak keturunan Israel (Nabi
Ya’qub A.s.) membesar. 1550 SM – 1200 SM Politik di Mesir berubah.
Bangsa Israel dianggap
sebagai masalah bagi negara
Mesir. Banyak dari bangsa
Israel yang lebih pintar dari
orang asli Mesir dan menguasai perekonomian. Oleh
pemerintah Firaun bangsa
Israel diturunkan statusnya
menjadi budak. 1200 SM – 1100 SM Nabi Musa A.s. memimpin
bangsa Israel meninggalkan
Mesir, mengembara di gurun
Sinai menuju tanah yang
dijanjikan, asalkan mereka
taat kepada Allah Swt – dikenal dengan cerita Nabi
Musa A.s. membelah laut
ketika bersama dengan
bangsa Israel dikejar-kejar
oleh tentara Mesir
menyeberangi Laut Merah. Namun saat mereka
diperintah untuk memasuki
tanah Filistin (Palestina),
mereka membandel dan
berkata: “Hai, Musa, kami
sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya,
selagi ada orang yang gagah
perkasa di dalamnya, karena
itu pergilah kamu bersama
Rabbmu (Tuhanmu), dan
berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya
duduk menanti di sini
saja.” (QS 5:24) Akibatnya mereka dikutuk
oleh Allah Swt dan hanya
berputar-putar saja di
sekitar Palestina. Belakangan
agama yang dibawa Nabi Musa
A.s. disebut Yahudi – menurut salah satu marga dari bangsa
Israel yang paling banyak
keturunannya, yakni Yehuda,
dan akhirnya bangsa Israil –
tanpa memandang warga
negara atau tanah airnya – disebut juga orang-orang
Yahudi. 1000 SM – 922 SM Nabi Daud A.s. (anak Nabi
Musa A.s.) mengalahkan
Goliath (Jalut, Qur’an) dari
Filistin. Palestina berhasil
direbut dan Daud dijadikan
raja. Wilayah kerajaannya membentang dari tepi sungai
Nil hingga sungai Efrat di Iraq.
Sekarang ini Yahudi tetap
memimpikan kembali
kebesaran Israel Raya seperti
yang dipimpin raja Daud. Bendera Israel adalah dua
garis biru (sungai Nil dan
Eufrat) dan Bintang Daud.
Kepemimpinan Daud A.s.
diteruskan oleh anaknya Nabi
Sulaiman A.s. dan Masjidil Aqsa pun dibangun. 922 SM – 800 SM Sepeninggal Sulaiman A.s.,
Israel dilanda perang saudara
yang berlarut-larut, hingga
akhirnya kerajaan itu
terbelah menjadi dua, yakni
bagian Utara bernama Israel beribukota Samaria dan
Selatan bernama Yehuda
beribukota Yerusalem. 800 SM – 600 SM Karena kerajaan Israel sudah
terlalu durhaka kepada Allah
Swt maka kerajaan tersebut
dihancurkan oleh Allah Swt
melalui penyerangan kerajaan
Asyiria. “Sesungguhnya Kami telah
mengambil kembali perjanjian
dari Bani Israil, dan telah Kami
utus kepada mereka rasul-
rasul. Tetapi setiap datang
seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang
tidak diingini hawa nafsu
mereka, maka sebagian rasul-
rasul itu mereka dustakan
atau mereka bunuh.” (QS
5:70) Hal ini juga bisa dibaca di Injil
(Bible) pada Kitab Raja-raja
ke-1 14:15 dan Kitab Raja-
raja ke-2 17:18. 600 SM – 500 SM Kerajaan Yehuda dihancurkan
lewat tangan Nebukadnezar
dari Babylonia. Dalam Injil Kitab
Raja-raja ke-2 23:27
dinyatakan bahwa mereka
tidak mempunyai hak lagi atas Yerusalem. Mereka diusir dari
Yerusalem dan dipenjara di
Babylonia. 500 SM – 400 SM Cyrus Persia meruntuhkan
Babylonia dan mengijinkan
bangsa Israel kembali ke
Yerusalem. 330 SM – 322 SM Israel diduduki Alexander
Agung dari Macedonia
(Yunani). Ia melakukan
hellenisasi terhadap bangsa-
bangsa taklukannya. Bahasa
Yunani menjadi bahasa resmi Israel, sehingga nantinya Injil
pun ditulis dalam bahasa
Yunani dan bukan dalam
bahasa Ibrani. 300 SM – 190 SM Yunani dikalahkan Romawi.
Maka Palestina pun dikuasai
imperium Romawi. 1 – 100 M Nabi Isa A.s. / Yesus lahir,
kemudian menjadi pemimpin
gerakan melawan penguasa
Romawi. Namun selain
dianggap subversi oleh
penguasa Romawi (dengan ancaman hukuman tertinggi
yakni dihukum mati di kayu
salib), ajaran Yesus sendiri
ditolak oleh para Rabbi
Yahudi. Namun setelah Isa
tiada, bangsa Yahudi memberontak terhadap
Romawi. 100 – 300 Pemberontakan berulang.
Akibatnya Palestina
dihancurkan dan dijadikan
area bebas Yahudi. Mereka
dideportasi keluar Palestina
dan terdiaspora ke segala penjuru imperium Romawi.
Namun demikian tetap ada
sejumlah kecil pemeluk Yahudi
yang tetap bertahan di
Palestina. Dengan masuknya
Islam kemudian, serta dipakainya bahasa Arab di
dalam kehidupan sehari-hari,
mereka lambat laun
terarabisasi atau bahkan
masuk Islam. 313 Pusat kerajaan Romawi
dipindah ke Konstantinopel
dan agama Kristen dijadikan
agama negara. 500 – 600 Nabi Muhammad Saw lahir di
tahun 571 M. Bangsa Yahudi
merembes ke semenanjung
Arabia (di antaranya di
Khaibar dan sekitar Madinah),
kemudian berimigrasi dalam jumlah besar ke daerah
tersebut ketika terjadi
perang antara Romawi
dengan Persia. 621 Nabi Muhammad Saw
melakukan perjalanan ruhani
Isra’ dari masjidil Haram di
Makkah ke masjidil Aqsa di
Palestina dilanjutkan
perjalana Mi’raj ke Sidrathul Muntaha (langit lapis ke-7).
Rasulullah menetapkan
Yerusalem sebagai kota suci
ke-3 ummat Islam, dimana
sholat di masjidil Aqsa dinilai
500 kali dibanding sholat di masjid lain selain masjidil
Haram di Makkah dan masjid
Nabawi di Madinah. Masjidil
Aqsa juga menjadi kiblat umat
Islam sebelum dipindah
arahnya ke Ka’bah di masjidil Haram, Makkah. 622 Hijrah Nabi Muhammad Saw ke
Madinah dan pendirian negara
Islam – yang selanjutnya
disebut khilafah. Nabi
mengadakan perjanjian
dengan bangsa Yahudi yang menjadi penduduk Madinah
dan sekitarnya, yang dikenal
dengan “Piagam Madinah”. 626 Pengkhianatan Yahudi dalam
perang Ahzab (perang parit)
dan berarti melanggar
Perjanjian Madinah. Sesuai
dengan aturan di dalam kitab
Taurat mereka sendiri, mereka harus menerima
hukuman dibunuh atau diusir. 638 Di bawah pemerintahan
Khalifah Umar Ibnu Khattab
ra. Seluruh Palestina
dimerdekakan dari penjajah
Romawi. Seterusnya seluruh
penduduk Palestina, Muslim maupun Non Muslim, hidup
aman di bawah pemerintahan
khilafah. Kebebasan beragama
dijamin sepenuhnya. 700 – 1000 Wilayah Islam meluas dari Asia
Tengah, Afrika hingga
Spanyol. Di dalamnya, bangsa
Yahudi mendapat peluang
ekonomi dan intelektual yang
sama. Ada beberapa ilmuwan terkenal di dunia Islam yang
sesungguhnya adalah orang
Yahudi. 1076 Yerusalem dikepung oleh
tentara salib dari Eropa.
Karena pengkhianatan kaum
munafik (sekte Drusiah yang
mengaku Islam tetapi
ajarannya sesat), pada tahun 1099 M tentara salib berhasil
menguasai Yerusalem dan
mengangkat seorang raja
Kristen. Penjajahan ini
berlangsung hingga 1187 M
sampai Salahuddin Al-Ayyubi membebaskannya dan setelah
itu ummat Islam yang terlena
sufisme yang sesat bisa
dibangkitkan kembali. 1453 Setelah melalui proses
reunifikasi dan revitalisasi
wilayah-wilayah khilafah yang
tercerai berai setelah
hancurnya Baghdad oleh
tentara Mongol (1258 M), khilafah Utsmaniah dibawah
Muhammad Fatih menaklukan
Konstatinopel, dan
mewujudkan nubuwwah
Rasulullah. 1492 Andalusia sepenuhnya jatuh
ke tangan Kristen Spanyol
(reconquista). Karena cemas
suatu saat umat Islam bisa
bangkit lagi, maka terjadi
pembunuhan, pengusiran dan pengkristenan massal. Hal ini
tidak cuma diarahkan pada
Muslim namun juga pada
Yahudi. Mereka lari ke wilayah
khilafah Utsmaniyah,
diantaranya ke Bosnia. Pada 1992 Raja Juan Carlos dari
Spanyol secara resmi meminta
maaf kepada pemerintah
Israel atas holocaust
(pemusnahan etnis) 500
tahun sebelumnya. (Tapi tidak permintaan maaf kepada
umat Islam). 1500 – 1700 Kebangkitan pemikiran di
Eropa, munculnya sekularisme
(pemisahan agama / gereja
dengan negara), nasionalisme
dan kapitalisme. Mulainya
kemajuan teknologi moderen di Eropa. Abad penjelajahan
samudera dimulai. Mereka
mencari jalur perdagangan
alternatif ke India dan Cina,
tanpa melalui daerah-daerah
Islam. Tapi akhirnya mereka didorong oleh semangat
kolonialisme dan imperialisme,
yakni Gold, Glory dan Gospel.
Gold berarti mencari
kekayaan di tanah jajahan,
Glory artinya mencari kemasyuran di atas bangsa
lain dan Gospel (Injil) artinya
menyebarkan agama Kristen
ke penjuru dunia. 1529 Tentara khilafah berusaha
menghentikan arus
kolonialisme/imperialisme serta
membalas reconquista
langsung ke jantung Eropa
dengan mengepung Wina, namun gagal. Tahun 1683 M
kepungan diulang, dan gagal
lagi. Kegagalan ini terutama
karena tentara Islam terlalu
yakin pada jumlah dan
perlengkapannya. “… yaitu ketika kamu menjadi
congkak karena banyaknya
jumlahmu, maka jumlah yang
banyak itu tidak memberi
manfaat kepadamu
sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu,
kemudian kamu lari ke
belakang dan bercerai-
berai.” (QS 9:25). 1798 Napoleon berpendapat bahwa
bangsa Yahudi bisa diperalat
bagi tujuan-tujuan Perancis di
Timur Tengah. Wilayah itu
secara resmi masih di bawah
Khilafah. 1831 Untuk mendukung strategi
“devide et impera” Perancis
mendukung gerakan
nasionalisme Arab, yakni
Muhammad Ali di Mesir dan
Pasya Basyir di Libanon. Khilafah mulai lemah
dirongrong oleh semangat
nasionalisme yang menular
begitu cepat di tanah Arab. 1835 Sekelompok Yahudi membeli
tanah di Palestina, dan lalu
mendirikan sekolah Yahudi
pertama di sana. Sponsornya
adalah milyuder Yahudi di
Inggris, Sir Moshe Monteveury, anggota Free
Masonry. Ini adalah pertama
kalinya sekolah berkurikulum
asing di wilayah Khilafah. 1838 Inggris membuka konsulat di
Yerusalem yang merupakan
perwakilan Eropa pertama di
Palestina. 1849 Kampanye mendorong imigrasi
orang Yahudi ke Palestina.
Pada masa itu jumlah Yahudi
di Palestina baru sekitar
12.000 orang. Pada tahun
1948 jumlahnya menjadi 716.700 dan pada tahun 1964
sudah hampir 3 juta orang. 1882 Imigrasi besar-besaran orang
Yahudi ke Palestina yang
berselubung agama, simpati
dan kemanusiaan bagi
penderitaan Yahudi di Eropa
saat itu. 1891 Para penduduk Palestina
mengirim petisi ke Khalifah,
menuntut dilarangnya imigrasi
besar-besaran ras Yahudi ke
Palestina. Sayang saat itu
khilafah sudah “sakit- sakitan” (dijuluki “the sick
man at Bosporus). Dekadensi
pemikiran meluas, walau
Sultan Abdul Hamid sempat
membuat terobosan dengan
memodernisir infrastruktur, termasuk memasang jalur
kereta api dari Damaskus ke
Madinah via Palestina! Sayang,
sebelum selesai, Sultan Abdul
Hamid dipecat oleh Syaikhul
Islam (Hakim Agung) yang telah dipegaruhi oleh Inggris.
Perang Dunia I meletus, dan
jalur kereta tersebut
dihancurkan. 1897 Theodore Herzl menggelar
kongres Zionis sedunia di
Basel Swiss. Peserta Kongres I
Zionis mengeluarkan resolusi,
bahwa umat Yahudi tidaklah
sekedar umat beragama, namun adalah bangsa dengan
tekad bulat untuk hidup
secara berbangsa dan
bernegara. Dalam resolusi itu,
kaum zionis menuntut tanah
air bagi umat Yahudi – walaupun secara rahasia –
pada “tanah yang bersejarah
bagi mereka”. Sebelumnya
Inggris hampir menjanjikan
tanah protektorat Uganda
atau di Amerika Latin ! Di kongres itu, Herzl menyebut,
Zionisme adalah jawaban bagi
“diskriminasi dan
penindasan” atas umat
Yahudi yang telah
berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini mengenang
kembali bahwa nasib umat
Yahudi hanya bisa diselesaikan
di tangan umat Yahudi sendiri.
Di depan kongres, Herzl
berkata, “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi !”
Apa yang direncanakan Herzl
menjadi kenyataan pada
tahun 1948. 1916 Perjanjian rahasia Sykes –
Picot oleh sekutu (Inggris,
Perancis, Rusia) dibuat saat
meletusnya Perang Dunia (PD)
I, untuk mencengkeram
wilayah-wilayah Arab dan Khalifah Utsmaniyah dan
membagi-bagi di antara
mereka. PD I berakhir dengan
kemenangan sekutu, Inggris
mendapat kontrol atas
Palestina. Di PD I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan
Sekutu untuk tujuan mereka
sendiri (memiliki pengaruh
atau kekuasaan yang lebih
besar). 1917 Menlu Inggris keturunan
Yahudi, Arthur James Balfour,
dalam deklarasi Balfour
memberitahu pemimpin Zionis
Inggris, Lord Rothschild,
bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman
Yahudi di Palestina dalam
membantu pembentukan
tanah air Yahudi. Lima tahun
kemudian Liga Bangsa-bangsa
(cikal bakal PBB) memberi mandat kepada Inggris untuk
menguasai Palestina. 1938 Nazi Jerman menganggap
bahwa pengkhianatan Yahudi
Jerman adalah biang keladi
kekalahan mereka pada PD I
yang telah menghancurkan
ekonomi Jerman. Maka mereka perlu “penyelesaian
terakhir” (endivsung).
Ratusan ribu keturunan
Yahudi dikirim ke kamp
konsentrasi atau lari ke luar
negeri (terutama ke AS). Sebenarnya ada etnis lain
serta kaum intelektual yang
berbeda politik dengan Nazi
yang bernasib sama, namun
setelah PD II Yahudi lebih
berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak
surat kabar atau kantor-
kantor berita di dunia. 1944 Partai buruh Inggris yang
sedang berkuasa secara
terbuka memaparkan politik
“membiarkan orang-orang
Yahudi terus masuk ke
Palestina, jika mereka ingin jadi mayoritas. Masuknya
mereka akan mendorong
keluarnya pribumi Arab dari
sana.” Kondisi Palestina pun
memanas. 1947 PBB merekomendasikan
pemecahan Palestina menjadi
dua negara: Arab dan Israel. 1948, 14 Mei. Sehari sebelum habisnya
perwalian Inggris di Palestina,
para pemukim Yahudi
memproklamirkan
kemerdekaan negara Israel.
Mereka melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat
Palestina yang masih lemah,
hingga jutaan dari mereka
terpaksa mengungsi ke
Libanon, Yordania, Syria,
Mesir dan lain-lain. Palestina Refugees menjadi tema dunia.
Namun mereka menolak
eksistensi Palestina dan
menganggap mereka telah
memajukan areal yang semula
kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel
dan negara-negara Arab
tetangganya. Namun karena
para pemimpin Arab
sebenarnya ada di bawah
pengaruh Inggris – lihat Imperialisme Perancis dan
Inggris di tanah Arab sejak
tahun 1798 – maka Israel
mudah merebut daerah Arab
Palestina yang telah
ditetapkan PBB. 1948, 2 Desember Protes keras Liga Arab atas
tindakan AS dan sekutunya
berupa dorongan dan fasilitas
yang mereka berikan bagi
imigrasi zionis ke Palestina.
Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan
Al-Banna mengirim 10.000
mujahidin untuk berjihad
melawan Israel. Usaha ini
kandas bukan karena mereka
dikalahkan Israel, namun karena Raja Farouk yang
korup dari Mesir takut bahwa
di dalam negeri IM bisa
melakukan kudeta, akibatnya
tokoh-tokoh IM dipenjara
atau dihukum mati. 1956, 29 Oktober Israel dibantu Inggris dan
Perancis menyerang Sinai
untuk menguasai terusan
Suez. Pada kurun waktu ini,
militer di Yordania
menawarkan baiat ke Hizbut Tahrir (salah satu harakah
Islam) untuk mendirikan
kembali Khilafah. Namun Hizbut
Tahrir menolak, karena
melihat rakyat belum siap. 1964 Para pemimpin Arab
membentuk PLO (Palestine
Liberation Organization).
Dengan ini secara resmi, nasib
Palestina diserahkan ke
pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak lagi urusan
umat Islam. Masalah Palestina
direduksi menjadi persoalan
nasional bangsa Palestina. 1967 Israel menyerang Mesir,
Yordania dan Syria selama 6
hari dengan dalih pencegahan,
Israel berhasil merebut Sinai
dan Jalur Gaza (Mesir),
dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem
(Yordania). Israel dengan
mudah menghancurkan
angkatan udara musuhnya
karena dibantu informasi dari
CIA (Central Intelligence Agency = Badan Intelijen
Pusat milik USA). Sementara
itu angkatan udara Mesir
ragu membalas serangan
Israel, karena Menteri
Pertahanan Mesir ikut terbang dan memerintahkan
untuk tidak melakukan
tembakan selama dia ada di
udara. 1967, Nopember Dewan Keamanan PBB
mengeluarkan Resolusi Nomor
242, untuk perintah
penarikan mundur Israel dari
wilayah yang direbutnya
dalam perang 6 hari, pengakuan semua negara di
kawasan itu, dan
penyelesaian secara adil
masalah pengungsi Palestina. 1969 Yasser Arafat dari faksi Al-
Fatah terpilih sebagai ketua
Komite Eksekutif PLO dengan
markas di Yordania. 1970 Berbagai pembajakan
pesawat sebagai publikasi
perjuangan rakyat Palestina
membuat PLO dikecam oleh
opini dunia, dan Yordania pun
dikucilkan. Karena ekonomi Yordania sangat tergantung
dari AS, maka akhirnya Raja
Husein mengusir markas PLO
dari Yordania. Dan akhirnya
PLO pindah ke Libanon. 1973, 6 Oktober Mesir dan Syria menyerang
pasukan Israel di Sinai dan
dataran tinggi Golan pada
hari puasanya Yahudi Yom
Kippur. Pertempuran ini
dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan Syria
hampir menang, kalau Israel
tidak tiba-tiba dibantu oleh
AS. Presiden Mesir Anwar
Sadat terpaksa berkompromi,
karena dia cuma siap untuk melawan Israel, namun tidak
siap berhadapan dengan AS.
Arab membalas kekalahan itu
dengan menutup keran
minyak. Akibatnya harga
minyak melonjak pesat. 1973, 22 Oktober Dewan Keamanan PBB
mengeluarkan resolusi Nomor
338, untuk gencatan senjata,
pelaksanaan resolusi Nomor
242 dan perundingan damai di
Timur Tengah. 1977 Pertimbangan ekonomi
(perang telah memboroskan
kas negara) membuat Anwar
Sadat pergi ke Israel tanpa
konsultasi dengan Liga Arab.
Ia menawarkan perdamaian, jika Israel mengembalikan
seluruh Sinai. Negara-negara
Arab merasa dikhianati.
Karena langkah politiknya ini,
belakangan Anwar Sadat
dibunuh pada tahun 1982. 1978, September Mesir dan Israel
menandatangani perjanjian
Camp David yang diprakarsai
AS. Perjanjian itu menjanjikan
otonomi terbatas kepada
rakyat Palestina di wilayah- wilayah pendudukan Israel.
Sadat dan PM Israel
Menachem Begin dianugerahi
Nobel Perdamaian 1979.
namun Israel tetap menolak
perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi.
Belakangan, otonomi versi
Camp David ini tidak pernah
diwujudkan, demikian juga
otonomi versi lainnya. Dan AS
sebagai pemrakarsanya juga tidak merasa wajib memberi
sanksi, bahkan selalu
memveto resolusi PBB yang
tidak menguntungkan pihak
Israel. 1980 Israel secara sepihak
menyatakan bahwa mulai
musim panas 1980 kota
Yerussalem yang didudukinya
itu resmi sebagai ibukota. 1982 Israel menyerang Libanon dan
membantai ratusan pengungsi
Palestina di Sabra dan Shatila.
Pelanggaran terhadap batas-
batas internasional ini tidak
berhasil dibawa ke forum PBB karena – lagi-lagi – veto dari
AS. Belakangan Israel juga
dengan enaknya melakukan
serangkaian pemboman atas
instalasi militer dan sipil di
Iraq, Libya dan Tunis. 1987 Intifadhah, perlawanan
dengan batu oleh orang-
orang Palestina yang tinggal
di daerah pendudukan
terhadap tentara Israel mulai
meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh HAMAS, suatu
harakah Islam yang memulai
aktivitasnya dengan
pendidikan dan sosial. 1988, 15 Nopember Diumumkan berdirinya negara
Palestina di Aljiria, ibu kota
Aljazair. Dengan bentuk
negara Republik Parlementer.
Ditetapkan bahwa Yerussalem
Timur sebagai ibukota negara dengan Presiden pertamanya
adalah Yasser Arafat. Setelah Yasser Arafat
mangkat kursi presiden
diduduki oleh Mahmud Abbas.
Dewan Nasional Palestina,
yang identik dengan Parlemen
Palestina beranggotakan 500 orang. 1988, Desember AS membenarkan pembukaan
dialog dengan PLO setelah
Arafat secara tidak langsung
mengakui eksistensi Israel
dengan menuntut realisasi
resolusi PBB Nomor 242 pada waktu memproklamirkan
Republik Palestina di
pengasingan di Tunis. 1991, Maret Yasser Arafat menikahi Suha,
seorang wanita Kristen.
Sebelumnya Arafat selalu
mengatakan “menikah
dengan revolusi Palestina”. 1993, September PLO – Israel saling mengakui
eksistensi masing-masing dan
Israel berjanji memberikan
hak otonomi kepada PLO di
daerah pendudukan. Motto
Israel adalah “land for peace” (tanah untuk
perdamaian). Pengakuan itu
dikecam keras oleh pihak
ultra-kanan Israel maupun
kelompok di Palestina yang
tidak setuju. Namun negara- negara Arab (Saudi Arabia,
Mesir, Emirat dan Yordania)
menyambut baik perjanjian
itu. Mufti Mesir dan Saudi
mengeluarkan “fatwa” untuk
mendukung perdamaian. Setelah kekuasaan di daerah
pendudukan dialihkan ke PLO,
maka sesuai perjanjian
dengan Israel, PLO harus
mengatasi segala aksi-aksi
anti Israel. Dengan ini maka sebenarnya PLO dijadikan
perpanjangan tangan Yahudi. Yasser Arafat, Yitzak Rabin
dan Shimon Peres mendapat
Nobel Perdamaian atas
usahanya tersebut. 1995 Rabin dibunuh oleh Yigar Amir,
seorang Yahudi fanatik.
Sebelumnya, di Hebron,
seorang Yahudi fanatik
membantai puluhan Muslim
yang sedang shalat subuh. Hampir tiap orang dewasa di
Israel, laki-laki maupun
wanita, pernah mendapat
latihan dan melakukan wajib
militer. Gerakan Palestina
yang menuntut kemerdekaan total menteror ke tengah
masyarakat Israel dengan
bom “bunuh diri”. Targetnya,
menggagalkan usaha
perdamaian yang tidak adil
itu. Sebenarnya “land for peace” diartikan Israel
sebagai “Israel dapat tanah,
dan Arab Palestina tidak
diganggu (bisa hidup damai).” 1996 Pemilu di Israel dimenangkan
secara tipis oleh Netanyahu
dari partai kanan, yang
berarti kemenangan Yahudi
yang anti perdamaian.
Netanyahu mengulur-ulur waktu pelaksanaan perjanjian
perdamaian. Ia menolak
adanya negara Palestina,
agar Palestina tetap sekedar
daerah otonom di dalam
Israel. Ia bahkan ingin menunggu/menciptakan
kontelasi baru (pemukiman
Yahudi di daerah pendudukan,
bila perlu perluasan hingga ke
Syria dan Yordania) untuk
sama sekali membuat perjanjian baru. AS tidak senang bahwa Israel
jalan sendiri di luar garis yang
ditetapkannya. Namun karena
lobby Yahudi di AS terlalu
kuat, maka Bill Clinton harus
memakai agen-agennya di negara-negara Arab untuk
“mengingatkan” si “anak
emasnya” ini. Maka sikap
negara-negara Arab tiba-tiba
kembali memusuhi Israel. Mufti
Mesir malah kini memfatwakan jihad terhadap Israel.
Sementara itu Uni Eropa
(terutama Inggris dan
Perancis) juga mencoba
“aktif” menjadi penengah,
yang sebenarnya juga hanya untuk kepentingan masing-
masing dalam rangka
menanamkan pengaruhnya di
wilayah itu. Mereka juga tidak
rela kalau AS “jalan sendiri”
tanpa bicara dengan Eropa. 2002 – Sampai sekarang Sebuah usul perdamaian saat
ini adalah Peta menuju
perdamaian yang diajukan
oleh Empat Serangkai Uni
Eropa, Rusia, PBB dan Amerika
Serikat pada 17 September 2002. Israel juga telah
menerima peta itu namun
dengan 14 “reservasi”. Pada
saat ini Israel sedang
menerapkan sebuah rencana
pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan
oleh Perdana Menteri Ariel
Sharon. Menurut rencana
yang diajukan kepada AS,
Israel menyatakan bahwa ia
akan menyingkirkan seluruh “kehadiran sipil dan militer
yang permanen” di Jalur
Gaza (yaitu 21 pemukiman
Yahudi di sana, dan 4
pemumikan di Tepi Barat),
namun akan “mengawasi dan mengawal kantong-kantong
eksternal di darat, akan
mempertahankan kontrol
eksklusif di wilayah udara
Gaza, dan akan terus
melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza.”
Pemerintah Israel
berpendapat bahwa
“akibatnya, tidak akan ada
dasar untuk mengklaim bahwa
Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan,” sementara
yang lainnya berpendapat
bahwa, apabila pemisahan diri
itu terjadi, akibat satu-
satunya ialah bahwa Israel
“akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok –
artinya, Penghalang Tepi
Barat Israel – dan
mempertahankan situasi di
Tepi Barat seperti adanya
sekarang ini” Di hari kemenangan Partai
Kadima pada pemilu tanggal
28 Maret 2006 di Israel, Ehud
Olmert – yang kemudian
diangkat sebagai Perdana
Menteri Israel menggantikan Ariel Sharon yang
berhalangan tetap karena
sakit – berpidato. Dalam
pidato kemenangan
partainya, Olmert berjanji
untuk menjadikan Israel negara yang adil, kuat, damai,
dan makmur, menghargai
hak-hak kaum minoritas,
mementingkan pendidikan,
kebudayaan dan ilmu
pengetahuan serta terutama sekali berjuang untuk
mencapai perdamaian yang
kekal dan pasti dengan
bangsa Palestina. Olmert
menyatakan bahwa
sebagaimana Israel bersedia berkompromi untuk
perdamaian, ia mengharapkan
bangsa Palestina pun harus
fleksibel dengan posisi
mereka. Ia menyatakan
bahwa bila Otoritas Palestina, yang kini dipimpin Hamas,
menolak mengakui Negara
Israel, maka Israel “akan
menentukan nasibnya di
tangannya sendiri” dan
secara langsung menyiratkan aksi sepihak. Masa depan
pemerintahan koalisi ini
sebagian besar tergantung
pada niat baik partai-partai
lain untuk bekerja sama
dengan perdana menteri yang baru terpilih. Sementara itu sebelum
terjadinya serangan habis-
habisan Israel ke Gaza
(27/12/2008), sudah terjadi
serangan-serangan kecil di
antara kedua belah pihak di sekitar Jalur Gaza,
disebabkan Israel menutup
tempat-tempat
penyeberangan atau jalur
komersial ke Gaza sehingga
pasokan bahan bakar minyak terhenti, yang memaksa
satu-satunya pusat
pembangkit listrik di Jalur
Gaza tutup. Sebagai catatan akhir,
Perdana Menteri Israel
setelah Benjamin Netanyahu
berutur-turut adalah Ehud
Barak, Ariel Sharon, dan yang
masih berkuasa di Israel dalam penyerangan di Gaza
sekarang adalah Ehud Olmert.
Sedangkan 4 faksi utama di
Palestina adalah PLO, Al-
Fatah, Jihad Islam Palestina
(JIP), dan yang berkuasa sekarang di Palestina adalah
Hamas dengan Perdana
Menterinya Ismail Haniya