Minggu, 20 Mei 2012

ad hominem

Jangan Menyerang
Pribadi’. Tanpa
menyimak materi
tulisannya, sebagian
besar dari kita
sudah dapat
membayangkan dan
mengantisipasi apa
yang ingin
disampaikan oleh
penulis. Secara
ringkasnya, penulis
ingin mengatakan
‘seranglah nalar/
logika sebuah
tulisan, tetapi
jangan menyerang
pribadi si penulis’.
Dalam bahasa Latin
ada istilah yang
cukup populer untuk
menggambarkan
kecenderungan ini
yaitu ad hominem.
Ad hominem
merupakan
pemendekan dari
istilah argumentum
ad hominem yang
didefinisikan dengan
‘upaya untuk
menafikan
kesahihan sebuah
pendapat dengan
merujuk kepada
kepribadian (yang
dianggap negatif)
atau keyakinan si
penuturnya. Contoh
ad hominem
misalnya ada orang
yang menyerang
tulisan tentang
bahaya merokok
dengan menuding si
penulis sebagai
‘pembenci
perokok’. Atau
mengatakan si
penulis munafik
menanggapi sebuah
artikel yang
ditulisnya. Jadi alih-
alih, menyampaikan
argumentasi atas
gagasan sebuah
tulisan, orang
menyerang pribadi
penulisnya. Tentu
dengan tindakan ad
hominem ini si
penyerang berharap
tulisan tersebut
kehilangan
kredibilitas, karena
si penulisnya
‘mempunyai
kelemahan’. Ini
ibarat mengajak
orang untuk tidak
membaca sebuah
novel ternama,
karena si penulisnya
adalah pecandu
narkoba misalnya.
Ad hominem juga
bisa bersifat
sirkumstansial.
Misalnya ada penulis
yang ‘membela’
Gayus Tambunan
dan kebetulan dia
juga bekerja di
kantor perpajakan,
maka akan ada ad
hominem yang
mengatakan
‘maling pasti akan
melindungi teman
malingnya’. Si
penyerang tidak
mau menelaah
apakah materi
tulisan ini sahih atau
tidak, tetapi
langsung
‘menghujamkan
keris’ kepada
penulisnya.
Ada pula yang
dinamakan ad
hominem tu quoque
(makna harfiahnya :
kamu juga).
Misalnya seorang
ayah menasehati
anaknya agar tidak
merokok, karena
akan merugikan
kesehatan di
kemudian hari. Si
anak akan
melancarkan ad
hominem tu quoque
dengan menukas
bahwa si ayah juga
perokok. Fakta
bahwa sang ayah
adalah perokok,
tidak menafikan
wacana bahwa
merokok ini
merugikan bagi
kesehatan. Sudah
tentu dalam
‘kasus’ di atas
kita dapat
mengatakan si ayah
bersifat hipokrit
(munafik), namun
pernyataan itu
sendiri tidak
menurun
kredibilitasnya
karena diucapkan
oleh seorang
perokok.
Selain ad hominem,
dikenal pula ad
feminam yaitu
menyerang pribadi
penutur/penulis
karena dia
berjender wanita.
Jadi kalau ada
tulisan penulis
wanita yang tidak
berkenan di benak
seseorang, maka
bukan gagasan
tulisan itu yang
dikritisi, melainkan
jender si penulis
yang wanita itu
yang dijadikan
‘pintu masuk’
untuk melancarkan
kritikan yang
bernuansa seksis.
Ada ungkapan
menarik yang
diucapkan John
Steward Mills yang
berbunyi : The worst
offense that can be
committed by a
polemic is to
stigmatize those
who hold a contrary
opinion as bad and
immoral men
(Penistaan paling
buruk yang
diakibatkan polemik
adalah men-
stigmakan orang
yang berbeda
pendapat sebagai
manusia yang jahat
dan tidak bermoral).
Ad hominem ini
tentu perlu
dibedakan pula
dengan umpatan
(verbal attack) yang
lebih vulgar lagi,
seperti menghujat
penulis dengan
kata-kata ‘bodoh,
tolol, idiot, dan
sebagainya. Mudah-
mudahan tulisan
kecil mengenai ad
hominem ini, dapat
membuka wawasan
pikir bahwa dengan
hati dan pikiran
terbuka, sebuah
tulisan dapat
diperdebatkan
seruncing-runcing
tanpa harus
‘meninju hidung’
si penulisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar