Jumat, 18 Mei 2012

sejarah alat hitung

oto: Metrogaya
Saya yakin anda
familiar dengan
kalkulator, ya…
sebuah mesin hitung
elektronik yang
umum dipergunakan
di semua bidang dan
disiplin ilmu. Ada
sejarah panjang
dibalik teknik hitung
menghitung ini,
konsep-konsep
matematika
sebenarnya sudah
lama dipergunakan
oleh peradaban
manusia sejak lama.
Pada periode
peradaban jaman
batu telah dikenal
metode matematika,
tentu saja dalam
pengertian secara
sederhana. Pohon,
hewan, panah, batu,
kayu, dan media
perantara lainnya
sudah digunakan
manusia saat itu
sebagai alat hitung.
Selain itu
penghitungan juga
menggunakan salah
satu bagian tubuh
manusia yaitu jari
tangan. Saya sendiri
sudah mengenal cara
itu mulai akhir tahun
80-an. Saat ini teknik
menghitung dengan
jari kembali
diperkenalkan dan
populer di Indonesia
oleh Septi Peni
Wulandari yang
kemudian metode itu
disebut dengan
jarimatika.
Baiklah saya mulai
kisah tentang
sejarah alat hitung
dari masa ke masa,
tapi perlu ditekankan
bahwa informasi-
informasi ini
berdasarkan catatan
yang ada.
Sebenarnya ada
banyak alat bantu
matematika yang
tidak terekam dalam
catatan karena tiap-
tiap tempat di
belahan dunia ini
mempunyai nama,
bentuk, dan cara
tersendiri walau satu
dengan lainnya tidak
mempunyai
perbedaan besar jika
dilihat dari periode
waktu
penggunaannya.
Alat lainnya seperti
yang sudah
diterangkan pada
awal tulisan yaitu
menggunakan media
dari alam seperti
batang kayu yang
diberi sayatan dan
simpul-simpul pada
tali (serabut). Seperti
yang tercatat dalam
sejarah bahwa awal
peradaban manusia
sudah berkomunikasi
memakai berbagai
simbol yang salah
satunya adalah
sayatan yang
dibentuk pada
sebuah batang kayu.
Teknik ini oleh
beberapa ahli
sejarah dinyatakan
sebagai teknik
menghitung yang
paling tua. Cara ini
lama digunakan
dalam kurun waktu
hingga abad ke-18 di
beberapa negara
seperti Rusia,
Perancis, Jerman,
Inggris, dan ditempat
lainnya termasuk
negara-negara
Skandinavia.
Sebagai gambaran
tentang batang kayu
yang mempunyai
sayatan ini terdiri
dari dua bagian yaitu
satu untuk debitur,
dan satunya lagi
untuk kreditur.
Biasanya digunakan
sebagai tanda
terima, bukti
pembayaran, dan
keperluan lainnya.
Alat hitung setelah
itu diperkiraan
muncul pada tahun
2000 sebelum
masehi. Pada masa
itu bangsa Sumeria
dan Mesir telah
menggunakan alat
hitung yang
dinamakan Abacus
(ada penyebutan lain
seperti kalkuli atau
abaculi). Abacus
adalah alat
penghitungan yang
cerdas berdasarkan
posisi relatif dari dua
set butiran manik-
manik pada sebuah
batangan yang
bergerak secara
paralel. Set pertama
berisi lima manik-
manik pada setiap
batangan dan
memungkinkan
menghitung dari 1
sampai 5, sedangkan
set kedua hanya
memiliki dua manik-
manik perbatang
yang mewakili
nomor 5 dan 10. Alat
tersebut masih
dipergunakan
sampai sekarang
oleh sebagian orang
dengan nama yang
beragam.
Abacus adalah alat
penghitungan yang
cerdas berdasarkan
posisi relatif dari dua
set butiran manik-
manik pada sebuah
batangan yang
bergerak secara
paralel. Set pertama
berisi lima manik-
manik pada setiap
batangan dan
memungkinkan
menghitung dari 1
sampai 5, sedangkan
set kedua hanya
memiliki dua manik-
manik perbatang
yang mewakili
nomor 5 dan 10.
Sistem Abacus
tampaknya
didasarkan pada
radix lima.
Menggunakan radix
lima masuk akal
sejak manusia mulai
menghitung objek
pada jari mereka.
Foto: wikipedia
Informasi lain adalah
mesin penghitung
pergerakan matahari
dan bulan yang
dinamakan
Antikythera, sebuah
alat mekanik kuno
dengan
menggunakan
penarik roda gigi
berjumlah 32 buah
yang menyerupai
mekanisme jam
abad 18. Kisah
penemuan
Antikythera itu
sendiri berawal dari
kisah antara tahun
100-65 sebelum
masehi ada sebuah
kapal Yunani yang
membawa beberapa
patung perunggu,
marmer, dan artefak
lainnya tenggelam
yang ketika
melakukan
perjalanan dari Pulau
Rhodes ke Roma di
sekitar pantai
Antikythera (nama
sebuah pulau kecil di
wilayah Yunani)
sampai melewati 2
milenium bangkai
kapal beserta
barang-barang
bawaannya tersebut
ditemukan oleh para
penyelam pada
tahun 1901.
Sekarang alat itu
beserta artefak
lainnya disimpan di
Museum Nasional
Athena, Yunani.
Foto: diycalculator
Selain itu ada juga
alat hitung yang
disebut Napier Bone,
sebuah alat
perkalian
matematika yang
diciptakan pada
tahun 1617 oleh
seorang ahli
matematika dari
Skotlandia yang
bernama John
Napier. Mesin hitung
ini terdiri dari
seperangkat
batangan vertikal
persegipanjang yang
masing-masing
dibagi dalam 10
kotak. Kotak paling
atas berisi angka dan
sisa kotak lainnya
yang berjumlah 9
berisi 9 kelipatan
dari angka pertama.
Masing-masing
kotak yang berisi
angka dipisahkan
oleh sebuah garis
diagonal. Cara
menggunakannya
adalah dengan
menempatkan
balok-balok angka
itu secara
berdampingan
dengan angka yang
diatasnya. Pengguna
alat hitung ini
dengan mudah dapat
memperoleh
hasilnya dengan
membaca baris yang
sesuai kelipatan dari
arah kiri ke kanan
sambil
menambahkan
angka yang
ditemukan pada
formasi jajaran
genjang yang
dibentuk oleh garis
diagonal. Alat hitung
yang ditemukan oleh
John Napier yang
juga sebagai penemu
logaritma, sebuah
konsep yang
digunakan untuk
mengubah perkalian
menjadi
penjumlahan ini
sukses dan banyak
digunakan di Eropa
hingga pertengahan
tahun 1960.
Selain John Napier
disebutkan Leonardo
Da Vinci juga
menemukan proses
penghitungan
berdasarkan
pengamatan pada
organisme hidup.
Maksudnya adalah
bahwa organisme
hidup berdasarkan
putaran evolusi. Hal
inilah yang
mengilhami
Leonardo
menciptakan sebuah
desain mekanik
hitung yang terdiri
dari roda-roda angka
pada perangkat
pemutar yang
membentuk hasil
dari banyak susunan
angka.
Foto: Britanica
Mesin hitung kuno
lainnya juga dibuat
oleh ahli matematika
yang bernama
Wilhelm Schickard
berdasarkan dari
keinginan untuk
menyederhanakan
sifat berulang dari
sistem operasi
aritmatika. Pada
saat itu Wilhelm
Schickard
merupakan seorang
profesor di sebuah
universitas Tubingen
Wuerttemberg
Jerman merancang
sebuah perangkat
mekanik yang
disebut Calculating
Clock. Alat ini
mempunyai
kemampuan
menambah dan
mengurangi hingga
enam digit angka
yang berdasarkan
pada pergerakan 6
buah roda.
Berdasarkan catatan
prototipe alat ini
hancur terbakar, ada
dugaan terdapat
prototipe lainnya
saat itu tapi tidak
pernah ditemukan.
Rekan Wilhelm yang
seorang astronom
bernama Johannes
Kepler menerima
beberapa surat
darinya antara tahun
1623-1624 yang
menceritakan
tentang penemuan
itu.
Tidak ada catatan-
catatan detail
mengenai alat itu
semenjak wilhelm
dan keluarga
meninggal akibat
penyakit pes. Hingga
akhirnya ditemukan
pada tahun 1935 dan
1956 oleh
sejarahwan Franz
Hammer.
Matematika Bruno
Von Freytag dari
Universitas Tubingen
dipergunakan
sebagai informasi
pendukung dalam
merekonstruksi
mesin rancangan
Wilhelm Schickard
pada tahun 1960.
Sekarang ini alat
hitung hasil
rekonstruksi itu
berada di Museum
Deutsches, München,
Jerman. (swp-
mdcom)
(www.permatabank.
net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar